Akhir yang Berlawanan [Kisah nyata]

Posted: 18 Juli 2011 in Renungan

Tatkala masih di bangku sekolah, aku hidup bersama kedua orangtuaku dalam lingkungan yang baik. Aku selalu mendengar doa ibuku saat pulang dari keluyuran dan begadang malam. Demikian pula ayahku, ia selalu dalam shalatnya yang panjang. Aku heran, mengapa ayah shalat begitu lama, apalagi jika saat musim dingin yang menyengat tulang.

Aku sungguh heran, bahkan hingga aku berkata kepada diri sendiri “Alangkah sabarnya mereka … setiap hari begitu … benar-benar mengherankan!” Aku belum tahu bahwa disitulah kebahagiaan orang mukmin dan itulah shalat orang pilihan … Mereka bangkit dari tempat tidurnya untuk bermunajat kepada Allah.

Setelah menjalani pendidikan militer, aku tumbuh sebagai pemuda yang matang. Tetapi diriku semakin jauh dari Allah padahal berbagai nasehat selalu kuterima dan kudengar dari waktu ke waktu. Setelah tamat dari pendidikan, aku ditugaskan di kota yang jauh dari kotaku. Perkenalanku dengan teman-teman sekerja membuatku agak ringan menanggung beban sebagai orang terasing. Di sana aku tak mendengar lagi suara bacaan Al qur’an. Tak ada lagi suara ibu yang membangunkanku dan menyuruhku shalat. Aku benar-benar hidup sendirian, jauh dari lingkungan keluaraga yang dulu kami nikmati.

Aku ditugaskan mengatur lalu-lintas di sebuah jalan tol. Di samping menjaga keamanan jalan, tugasku membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan. Pekerjaan baruku sungguh menyenangkan. Aku lakukan tugas-tugasku dengan semangat dan penuh dedikasi tinggi. Tetapi, hidupku bagai bagai selalu diombang-ambingkan ombak, aku bingung dan sering melamun sendirian … banyak waktu luang … pengetahuanku terbatas. Aku mulai jenuh… tak ada yang menuntunku di bidang agama. Aku sebatangkara. Hampir tiap hari yang kusaksikan hanya kecelakaan dan orang-orang yang mengadu kecopetan atau bentuk-bentuk penganiayaan lain. Aku bosan dengan dengan rutinitas.
Sampai suatu hari terjadilah sebuah peristiwa yang hingga kini tak pernah kulupakan. Ketika itu, kami dengan seorang kawan sedang bertugas di sebuah pos jalan. Kami asyik ngobrol … tiba-tiba kamin dikagetkan oleh suara benturan yang amat keras. Kami mendengarkan pandangan. Ternyata, sebuah mobil bertabrakan dengan mobil lain yang meluncur dari arah yang berlawanan. Kami segera berlari mnuju tempat kejadian untuk menolong korban. Kejadin yang sungguh tragis. Kami lihat dua awak salah satu mobil dalam keadaan kritis. Keduanya segera kami keluarkan dari mobil lalu kami bujurkan di tanah. Kami cepat-cepat menuju mobil satunya. Ternyata pengemudinya telah tewas dengan amat mengerikan.
Kami kembali lagi kepada dua orang yang yang berada dalam kondisi koma. Temanku menuntun mereka mengucapkan kalimat syahadat. Ucapkan “laailaaha Illallaah … Laailaha Illallah…” perintah temanku. Tetapi sungguh mengerikan, dari mulutnya malah meluncur lagu-lagu. Keadaan itu malah membuatku merinding. Temanku tampaknya sudah terbiasa menghadapi orang-orang sekarat, apalagi dengan kondisi seperti ini. Temanku terus menuntun keduanya mengulang-ulang bacaan syahadat. Tetapi … keduanya tetap terus saja melantunkan lagu.
Tak ada gunanya … suara lagu semakin melemah… lemah dan lemah sekali. Orang pertama diam, tak bersuara dan disusul orang kedua. Tak ada yang gerak… keduanya telah meninggal dunia. Kami segera membawa meraka ke dalam mobil. Temanku menunduk, ia tak berbicara sepatahpun. Selama perjalana hanya ada kebisuan, hening dan. Kesunyian pecah ketika temanku mulai bicara, ia berbicara tentang hakikat kematian dan su’ul khatimah (kesudahan yang buruk). Ia berkata “manusia akan mengakhiri hidupnya dengan baik dan buruk. Kesudahan hidup itu biasanya pertanda apa yang dilakukan olehnya selama di dunia .” Ia bercerita panjang lebar padaku tentang berbagai kisah yang diriwayatkan dalam buku-buku Islam. Ia juga berbicara bagaimana seseorang akan mengakhiri hidupnya sesuai dengan masa lalunya secara lahir dan bathin.
Perjalanan ke rumah sakit terasa singkat oleh pembicaraan kami tentang kematian. Pembicaraan itu makin sempurna gambarannya tatkala ingat bahwa kami sedang membawa mayat. Tiba-tiba aku menjadi takut mati. Peristiwa ini benar-benar memberi pelajaran berharga bagiku. Hari itu, aku shalat khusyu’ sekali. Tetapi perlahan-lahan aku mulai melupakan peristiwa itu. Aku kembali kepada kebiasaanku semula… aku seperti tak pernah menyaksikan apa yang menimpa kedua orang yang tak kukenal beberapa waktu yang lalu.
Tetapi sejak saat itu, aku memang benar-benar benci kepada yang namanya lagu-lagu. Aku tak mau tenggelam menikmatinya seperti sedia kala. Mungkin itu ada kaitannya dengan lagu yang pernah kudengar dari dua orang yang sedang sekarat dahulu. Kejadian yang menakjubkan
Selang enam bulan dari peristiwa mengerikan itu… sebuah kejadian menakjubkan kembali terjadi di depan mataku. Seseorang mengendarai mobilnya dengan pelan, tetapi tiba-tiba mobilnya mogok di sebuah terowongan menuju kota. Ia turun dari mobilnya untuk mengganti ban yang kempes.
Ketika ia berdiri di belakang mobil untuk menurunkan ban serep, tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabraknya dari arah belakang. Lelaki itupun tersungkur seketika. Aku dengan seorang kawan,-bukan yang menemaniku pada kejadian pertama- cepat-cepat menuju tempat kejadian, dia kami bawa dengan mobil dan segera pula kami menghubungi rumah sakit agar langsung mendapatkan penanganan. Dia masih sangat muda, dari tampangnya, ia kelihatan seorang yang taat menjalankan perintah agama. Ketika mengangkatnya ke mobil, kami berdua cukup panik, sehingga tak sempat memperhatikan ia menggumamkan sesuatu. Ketika kami membujurkannya di dalam mobil, kami baru bisa membedakan suara yang keluar dari mulutnya. Ia melantunkan ayat-ayat suci Al Qur’an … dengan suara amat lemah.
“Subhanallah ! dalam kondisi kritis seperti itu ia masih sempat melantunkan ayat suci Al Qur’an ? Darah mengguyur seluruh pakaiannya, tulang-tulangnya patah, bahkan ia hampir mati. Dalam kondisi seperti itu, ia terus melantunkan ayat-ayat Al Qur’an dengan suaranya yang merdu. Selama hidup, aku tak pernah mendengar bacaan Al Qur’an seindah itu. Dalam batin aku bergumam sendirian ” Aku akan menuntunnya membaca syahadat sebagaimana yang dilakukan temanku terdahulu.. apalagi aku sudah punya pengalaman. Aku meyakinkan diriku sendiri. Aku dan kawanku seperti terhipnotis mendengar suara bacaan Al Qur’an yang merdu itu. Sekonyong-konyong sekujur tubuhku merinding, menjalar dan menyelusup ke setiap rongga. Tiba-tiba, suara itu terhenti. Aku menoleh ke belakang.
Kusaksikan dia mengacungkan jari telunjuknya lalu bersyahadat. Kepalanya terkulai, aku melompat ke belakang kupegang tangannya, degup jantungnya, nafasnya, tidak ada yang terasa. Dia telah meninggal. Aku memandanginya lekat-lekat, air mataku menetes, kusembunyikan tangisku, takut diketahui kawanku. Kukabarkan pada kawanku kalau pemuda itu telah meninggal. Kawanku tak kuasa menahan tangisnya. Demikian pula halnya dengan diriku. Aku terus menangis air mataku deras mengalir. Suasana dalam mobil benar-benar sangat megharukan. Sampai di rumah sakit…. kepada orang-orang di sana kami mengabarkan perihal kematian yang menakjubkan
Banyak orang yang terpengaruh dengan kisah kami, sehingga tak sedikit yang meneteskan air mata, salah seorang dari mereka, setelah mendengar kisah tersebut, segera menghampiri jenazah dan mencium keningnya. Semua orang yang hadir memutuskan untuk tidak beranjak sebelum mengetahui secara pasti kapan jenazah akan dishalatkan. Mereka ingin memberi penghormatan terakhir kepada jenazah, semua ingin ikut menyolatinya. Salah seorang petugas rumah sakit menghubungi rumah almarhum. Kami ikut mengantar jenazah hingga kerumah keluarganya. salah seorang saudaranya mengisahkan, ketika kecelakaan, sebetulnya almarhum hendak menjenguk neneknya di desa.
Pekerjaan itu rutin ia lakukan setiap senin. Disana almarhum juga menyantuni para janda, anak yatim dan orang-orang miskin. Ketika terjadi kecelakaan, mobilnya penuh dengan gula, beras, buah-buahan dan barang-barang kebutuhan pokok lainnya. Ia juga tak lupa membawa buku-buku agama dan kaset-kaset pengajian. Semua itu untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang yang ia santuni. Bahkan ia juga membawa permen untuk dibagi-bagikan kepada anak-anak kecil. Begitulah hidup ini. Kita tidak tahu kapan kita akan mati, bisa jadi saat kita bersantai-santai, maka saat itulah Allah mengambila kita. Na’udzubillaahi min dzalik.
Oleh karenanya marilah kita persiapkan datangnya “pemutus kelezatan” itu semenjak sekarang janganlah kita lengah walau hanya sesaat. Ingat kematian yang baik (khusnul khatimah) tidah mudah kita raih. Dari kisah nyata di atas, seseorang yang pada masa hidupnya sangat mencintai musik ternyata pada detik-detik terakhir hidupnya, mulutnya menyanyikan lagu-lagu yang dia sukai. Sementara seorang yang shaleh yang suka berbuat baik terhadap sesama pada detik-detik terakhir hidupnya ternyata membacakan ayat-ayat suci Al Qur’an sebelum akhirnya dia meninggal. Untuk menjadi seorang yang menghadapi kematian seperti orang yang kedua pada kisah di atas bukan hanya diperlukan kesukaan kita membaca Al Qur’an, bukan hanya perbuatan baik yang kita lakukan saja sementara hati tidak ikhlas, bukan hanya dengan banyak beribadah namun tanpa dibarengi dengan kekhusyu’an, namun yang terpenting adalah bagaimana dengan hati kita apakah disetiap saat setiap detiknya terus terpaut kepada Allah SWT atau tidak? Apakah setiap ibadah yang kita lakukan memang benar hanya untuk Allah? Apakah setiap perbuatan baik yang kita lakukan ikhlas kita lakukan hanya kepada Allah semata? Apakah kita sudah tidak lagi menyukai musik, video game, film atau berbagai nikmat lainnya yang justru malah melalaikan kita dari ingat kepada Allah?
Atau apakah kita ingin jadi orang pertama dari kisah diatas yang pada saat kematiannya malah menyanyikan lagi (bukannya bersyahadat, atau membaca ayat-ayat Al Qur’an), atau malah lebih parah dari itu? Itulah salah satu efek langsung cintanya kepada hal-hal yang bersifat dunia.
Walaupun kita sudah hafal syahadat, belum tentu pada saat kematian nanti , kita dengan mudah membacakannya, walaupun kita dapat membaca ayat-ayat suci Al Quran belum tentu pada saat detik-detik akhir hidup kita dengan mudah dapat kita lakukan. Itu semua tergantung keimanan kita terhadap Allah SWT, tergantung perilaku hidup kita selama hidup ini, tergantung banyaknya amal yang dikerjakan dengan ikhlas, tergantung dengan bagaimana kita berusaha meninggalkan kesukaan kita dengan hal-hal yang sifatnya duniawi diantaranya musik, film, permainan, harta, jabatan, kekuasaan bahkan anak-anak yang dimiliki sekalipun. Itu semua adalah nikmat yang dibeerikan Allah sebagai cobaan kepada kita, apakah kita mampu menikmati semua itu tanpa melalaikan kewajiban kita kepada Allah Yang Maha Pemberi Nikmat.
Tentunya perilaku kita yang masih banyak mencintai dunia tidak dapat berubah begitu saja. Dalam hal ini diperlukan tarbiyah (pembinaan) terhadap diri kita sebagai upaya merubah sikap dan cara pandang kita terhadap kecintaan terhadap dunia menjadi cinta Allah semata. Dan tarbiyah ini tidak dapat hanya dilakukan sekali saja, namun harus berkelanjutan tidak ada akhir. Harus ada orang yang setiap saatnya mengingatkan kita agar selalu menggingat Allah.

Diantara realisasi tarbiyah yang dapat dilakukan adalah :
Pertama, tarbiyah fikriyah atau pembinaan pemahaman/ilmu. Secara teoritis tarbiyah fikriyah sangat penting agar pemahaman kita tentang Islam atau tentang ilmu lainnya tidak melenceng dari jalurnya.
Kedua, tarbiyah ruhiyah atau pembinaan ruh/rohani/jiwa. Tarbiyah inilah yang paling penting untuk menggapai keselamatan di dunia dan di akhirat kelak. Orang yang pintar namun jiwanya rusak, atau kondisi rohaninya hancur, maka orang ini berpotensi untuk menghancurkan dunia dengan tangannya. Kondisi ruhiyah seseorang sangat mempengaruhi sikap dan perilakunya sehari-hari. Jika kondisi ruhiyah seseorang sangat baik, maka sifat dengki, ujub, takabur dsb, tidak akan pernah dapat muncul. “Kondisi ruhiyah ini sangat dipengaruhi oleh pembinaan jiwa kita dari kegiatan-kegiatan yang mampu menumbuhkan semangat ruhiyah, seperti mentoring minimal sekali setiap seminggu. Atau mengikuti berbagai bentuk pengajian rutin, bukan yang insidental saja. Atau ceramah-ceramah dari radio dan TV juga dapat menjadi sarana yang membantu memberikan makanan ruhiyah kepada kita agar semangat beribadah dengan khusyu’ serta mengamalkan ajaran Islam secara benar.
Ketiga, tarbiyah jasadiyah atau pembinaan fisik. Tentunya tubuh kita pun harus dijaga dari penyakit yang senantiasa menggerogoti. Hal ini dapat diantisipasi dengan secara teratur makan dengan makanan yang halal dan bergizi, beristirahat secara teratur dengan porsi tidak terlalu banyak ataupun tidak terlalu kurang, berolahraga secara teratur setiap hari atau setiap minggu.
Bagi orang-orang yang cinta dunia, haus akan gemerlapnya kemewahan dunia yang menipu, maka kematian adalah suatu hal yang paling ditakuti dan rasanya mereka ingin menikmati kehidupan di dunia ini dalam jangka waktu yang lama. Betapa kecilnya tujuan hidup mereka. Bayangkan jika itu terjadi pada diri kita. Hendaknya kita juga bertanya pada diri kita sendiri apakah kita seperti mereka yang mendambakan hidup selamanyadengan terus menerus menikmati kehidupan dunia dan menjauhi bebagai hal untuk kepentingan di akhirat kelak. Apakah masih ada diantara kita yang malas mendalami ilmu agama hanya karena ingin menonoton film favoritnya, Naruto misalnya? Apakah ada diantara kita yang tidak mau membaca Al Qur’an walaupun hanya satu ayat setiap harinya? Apakah masih ada diantara kita yang shalatnya terlalaikan hanya gara-gara main play station atau game di komputer atau menonton acara di TV? Apakah ada diantara kita yang tidak pernah berinfak barang satu peser pun setiap minggunya padahal kesempatan untuk berinfak itu sangat banyak? Apakah masih ada diantara kita yang tidak berani menasehati temannya untuk mendirikan shalat atau menjauhi kemaksiatan atau bentuk amal ma’ruf dan nahi munkar lainnya? Apakah ada diantara kita yang tidak puas dengan nikmat yang telah Allah berikan berupa nikmat iman dan nikmat Islam ini sampai ada saudara kita yang seaqidah yang keluar dari ajaran Islam hanya karena diberi sebungkus mie? Na’udzubillahi min dzalik.
Semoga Allah SWT memberikan kita kekuatan agar dapat terhindar dari hal-hal yang menjerumuskan kita dari kecintaan kita terhadap dunia yang fana ini, hanyalah cinta kita kepada Allah SWT yang akan menyelamatkan kita kepada kesenangan dan kebahagiaan secara abadi. Amin.

Komentar
  1. Ats Tsauriy mengatakan:

    Subhanallah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s